Penyesalan dan rasa sakit, sering kali terus menghantui kita. Merayap bersama tiap bayangan hitam tubuh.
Menjadikan hitam menjadi lebih dan lebih gelap lagi. Memerangkap setiap jiwa ke dalam penjara gelap tanpa cahaya. Sebongkah jiwa yang berat namun rapuh. Seakan kuat karena kegelapan tapi sebenarnya mudah tersapu oleh waktu yang berjalan. Siapa sangka kegelapan itu selalu bersemayam dalam tubuh kita. Mengintai, mencari kesempatan yang tepat untuk menarik kita. Mendekatkan kita pada tepi jurang. Rasa penyesalan itu perlahan-lahan merapatkan barisan. Menumpuk menjadi sebuah dinding tebal yang menahan kita untuk meraih cahaya kebebasan. Membutakan mata, hati juga pikiran. Menjadikan kita manusia kosong. Membuat kita memaki semua yang ada di dunia ini. Baik, salah, semua sama saja. tak akan ada yang dapat berubah. Seakan akan semua selalu salah. Semua dapat menjadi benar hanya saja waktunya tidak benar. Tapi apa waktu yang bersalah? Mengapa tidak menyesuaikan dengan waktu? Tapi apabila waktu sudah tepat, apa benar ini yang paling benar? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan terus mendorang keluar dari tiap sel-sel pemikiran. Mempercepat kecepatan pertanyaan yang berputar tak beraturan dalam tubuh yang kosong ini. Setiap pertanyaan saling menyinggung, bersilangan bahkan bertumbukan. Membentur setiap nalar, dan memunculkan puluhan tanda tanya baru. Menciptakan kepenatan, membuat tekanan yang terus bertambah. Menjadikan tubuh ini lelah dengan semuanya. Sampai suatu saat, tidak sanggup lagi menanggung semua itu. Menyerah, kalah oleh diri sendiri. Dan akhirnya layu dalam kesunyian, merayap masuk dalam kegelapan.
Penyesalan
Diposting oleh
Hilma-Lala
Selasa, 06 November 2012
0 komentar:
Posting Komentar